Hutan Gunung Luhur

Selain memiliki desa wisata, Desa Cempaka Kecamatan Bumijawa memiliki wisata religi di hutan gunung Luhur. Hutan ini berada di sebelah Selatan lapangan dan persawahan Desa Cempaka. Di tengah hutan, terdapat lokasi yang dianggap keramat oleh masyarakat. Banyak yang menyebut tempat tersebut sebagai “keraton”.

wisata gunung tegal, wisata pegunungan tegal, pesona wisata tegal
Wisata Gunung Luhur / sumber: Digimarcom

Di areal keraton hutan Gunung Luhur ini terdapat sebuah makam tua. Menurut masyarakat, makam tersebut adalah mbah Dipo Agung Luhur. Yaitu salah satu penyebar agama Islam di wilayah Bumijawa yang berasal dari Pajajaran Cirebon. Menariknya, keraton ini memiliki mitos mengenai ‘pinjam gending’.

Menurut penuturan masyarakat, pada malam-malam tertentu seperti malam Jumat Kliwon terdengar jelas riuh rentak suara gending dari dalam keraton. Meski tak kasatmata namun masyarakat percaya bahwa suara gending tersebut berasal dari dalam keraton.

Konon, gending (gamelan) tersebut bisa “dipinjam” melalui ritual-ritual tertentu. Ketika ritual dilaksanakan, si peminjam sekaligus mengutarakan niat atau tujuan dari peminjaman gamelan. Masyarakat percaya, jika si peminjam itu adalah seorang petani, maka pada musim panen ia akan mendapat hasil yang melimpah.

Kepercayaan tersebut memunculkan sebuah adat yang diberi nama methik. Petani akan menyisihkan makanan dan ditaruh di empat pojok sawah layaknya sebuah sesajian. Di dalam sesajian tersebut berisi bubur abang ijo, sumpil (beras yang ditaruh di dalam daun bambu lalu diikat menjadi segitiga). Sesajian itu selanjutnya ditaruh di setiap pojok sawah.

Anehnya, gamelan yang dipinjam akan muncul dalam wujud nyata pada pagi hari setelah si peminjam mengutarakan niat dan meletakkan sesaji. Namun, layaknya seseorang meminjam sesuatu, barang tersebut harus dikembalikan ke tempat asal dengan lengkap.

Keanehan ini berlangsung cukup lama, hingga suatu hari ada seorang peminjam yang tidak mengembalikan gamelan tersebut sesuai aslinya. Kejadian ini memicu kemarahan penghuni keraton sehingga gendingan itu tak lagi dapat dipinjam.

Cerita ‘pinjam gending’ ini berlangsung cukup lama. Namun semenjak gamelan itu tak dikembalikan secara utuh, gending di dalam keraton hutan gunung Luhur tak pernah muncul lagi hingga saat ini. Seolah mendapat sebuah kutukan, pelaku yang ngilangna atau menghilangkan gamelan tersebut tak pernah mendapat kemakmuran hingga turun-temurun hingga ke anak cucunya.

Meski memiliki mitos seperti demikian, tak menyurutkan masyarakat sekitar untuk mengunjungi hutan gunung Luhur Desa Cempaka. Bahkan masyarakat yang datang ke gunung Luhur berasal dari luar kota seperti Jakarta, Cirebon, dan Banyumas. Mereka datang ke sana khusus untuk memperingati hari wafat atau haul mbah Dipo Agung Luhur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *