Monumen GBN Lebaksiu

Monumen GBN Lebaksiu dibangun untuk mengenang peristiwa 1950 sampai 1962 yakni Gerakan Banteng oleh TNI yang memerangi sebuah gerakan ekstrim bernama Darul Islam (DI/TII). Gerakan DI/TII yang dipimpin oleh Sukarmadji Kartosuwiryo menyatakan melawan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Daerah yang banyak diduduki oleh DI/TII yakni Pagerbarang, Margasari, Bumijawa, Bojong, Jatinegara, Balapulang, Lebaksiu, dan Kedungbanteng. Wilayah lalu lintas DI/TII adalah Pangkah hingga Warureja. Tokoh berpengaruh DI/TII adalah Mustopa dan Amir Patah.

Monumen GBN Lebaksiu / sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal

DI/TII merupakan suatu gerakan yang terkenal kejam sehingga ditakuti oleh penduduk. Gerakan tersebut melakukan pemebrontakan terhadap pemerintahan, melakukan terror di tengah masyarakat dengan membakar rumah warga tak berdosa.

Kolonel Ahmad Yani membentuk Benteng Riders untuk menumpas gerakan DI/TII. Pasukan khusus itu terdiri dari Kompi I yang dipimpin oleh Kapten Yyasir, Kompi II dipimpin oleh Kapten Pujadi. Pasukan Khusus membentuk metode pagar betis untuk membatasi ruang gerak para pengikut DI/TII, hingga pada tanggal 4 Juni 1962 di Gunung Geber, Majalaya Jawa Barat, akhirnya Sukarmadji Kartosuwiryo menyerahkan diri.

Monumen GBN Lebaksiu dibangun untuk mengenang sejarah yang pernah terjadi di Kabupaten Tegal. Sehingga dapat memberikan pemahaman sejarah perjuangan membela tanah air pada generasi penerus, khususnya di Kabupaten Tegal. Monumen GBN Lebaksiu berada di Desa Lebaksiu Kidul, Kecamatan Lebaksiu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *