SENI DAN BUDAYA

Seni budaya Kabupaten Tegal telah mengakar di tengah masyarakat sejak berabad-abad silam. Saat kerajaan Majapahit berkuasa, momentum penobatan raja pun menggelar berbagai kesenian yang berasal dari tiap daerah jajahan. Setiap duta seni dari penjuru daerah akan unjuk kebolehan di hadapan raja.

Konon, dari berbagai kesenian yang ditampilkan, tari topeng merupakan tarian kegemaran Raja Hayam Wuruk. Ketika berkunjung ke berbagai daerah, ia selalu mendapatkan suguhan tampilan tari topeng. Hingga akhirnya kesenian ini telah menjadi tradisi yang berkembang hingga ke Kabupaten Tegal.

Tari topeng Tegal berasal dari akulturasi budaya masyarakat Tegal dengan orang luar daerah, terutama saat pelabuhan Shahdan menjadi pusat pertukaran berbagai hal seperti kesenian dan kebudayaan. Tari topeng Tegal memiliki ciri khas yakni gerak jeglong dan gerak nggiur yang tidak ada dalam gerakan tari topeng asal daerah lain.

Runtuhnya kerajaan Majapahit lambat laun digantikan oleh kerajaan Islam Demak. Hal tersebut berpengaruh, seni budaya Kabupaten Tegal mulai diwarnai nuansa keagamaan. Seperti rebana atau terbang kencer, samroh atau kasidah, marawis, gambus, kuntulan, terbang genjring dan terbang Jawa atau balo-balo.

Seni budaya Kabupaten Tegal yang didominasi oleh tradisi Jawa pun tersebar ke seluruh wilayah Kabupaten Tegal. Seperti wayang suket atau wayang tutus, wayang kulit, kentrung, karawitan, calung, barongan, kuda lumping, dan kesenian sintren Tegal.

Persebaran kesenian Islami dan kesenian tradisional Jawa di Kabupaten Tegal terbukti dapat hidup selaras, dan menumbuhkan toleransi keagamaan maupun kesukuan.

Berbagai tulisan dalam website Tegal Tourism ini tidak hanya sebagai upaya pendokumentasian ragam seni budaya Kabupaten Tegal, namun web ini sekaligus menjadi media edukasi kepada para pembaca mengenai sejarah sebuah peristiwa hingga perkembangannya. Hal ini sejalan dengan misi pelestarian budaya yang digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten Tegal.