Desa Cempaka

Desa Cempaka Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal menyimpan cerita sejarah yang menarik untuk disimak. Berada di lereng Gunung Slamet, Desa Cempaka memiliki udara sejuk dari vegetasi alami yang tumbuh subur seperti rimbunnya pepohonan hingga pertanian yang di kelola oleh masyarakat.

Nama Cempaka berasal dari sebuah pohon bunga cempaka yang ditanam oleh seorang wali atau penyebar agama Islam asal Cirebon bernama mbah Sanmuluk. Beliau merupakan salah satu dari para sesepuh yang turut andil dalam pembangunan Desa Cempaka. Seperti pembangunan beberapa tuk atau mata air.

Mbah Sanmuluk tak sendiri, dalam proses pembangunan sebuah mata air bernama Tuk Mudal, beliau ditemani oleh sesepuh dari beberapa desa di Kecamatan Bumijawa. Seperti mbah Mayakerti, mbah Raksandana, mbah Sutawedana, mbah Pandansari, mbah Agung, dan mbah Jigjaya.

Tuk Mudal / sumber: Digimarcom Hidora

Tuk Mudal Cempaka merupakan mata air yang dulunya sering disebut dengan nama Mudal Aya atau Tuk Cirebon. Sumber mata air alami ini dulunya digunakan oleh warga sekitar untuk keperluan sehari-hari seperti memasak, mandi, dan wudhu. Bahkan dahulu Tuk Mudal dibagi menjadi dua bagian dengan sebuah pembatas untuk pembedaan tempat bagi laki-laki dan perempuan saat mengambil wudhu.

Setiap mata air memiliki sebuah mushola atau tempat ibadah bagi umat muslim. Sehingga Tuk Mudal dahulu menjadi sebuah tempat untuk sarana bersosialisasi bagi masyarakat setempat menjelang waktu sholat fardhu. Desa Cempaka Tegal memiliki mata air dengan posisi lebih rendah dari perumahan warga, sehingga saat itu mendorong masyarakat untuk menuju tujuh mata air di bawah.

Kondisi tersebut berubah setelah masuknya Pangsimas (pengelolaan air bersih masyarakat) atau pengairan air bersih ke setiap desa dengan posisi mata air yang lebih tinggi. Dampaknya, Tuk Mudal dan enam mata air di sekitarnya tak lagi difungsikan untuk keperluan sehari-hari seiring perkembangan tersedianya air bersih yang ada di setiap rumah.

Desa Cempaka Tegal: Program Pangsimas mudahkan warga dapatkan air bersih

Pangsimas (pengelolaan air bersih masyarakat) Desa Cempaka bertujuan memudahkan masyarakat untuk dapat menikmati air bersih yang langsung mengalir ke tiap rumah penduduk. Namun dalam perjalannya, program tersebut tak serta merta melalui jalan mulus. Masyarakat Desa Cempaka harus “berebut” mata air dengan beberapa desa lain di sekitarnya, yakni Desa Gunung Agung dan Desa Jejeg.

Sebelum program tersebut berjalan pada tahun 2014 lalu, pemerintah Desa Cempaka harus membeli mata air dari Desa Jejeg dan Desa Sirampug. Desa Jejeg merupakan salah satu desa di Kecamatan Bumijawa yang lokasinya berkisar tiga kilometer di atas Desa Cempaka. Sedangkan Desa Sirampug berada di Kabupaten Brebes dengan jarak kurang lebih tujuh kilometer dari Desa Cempaka.

Pembelian mata air milik perseorangan itu pun sempat melalui proses negoisasi yang alot. Bahkan mulanya, harga tawar sebuah mata air hingga bernilai ratusan juga rupiah. Namun setelah melalui proses negosiasi yang panjang dengan persaingan ketat dengan desa lainnya, Desa Cempaka mampu membeli dua mata air tersebut.

Irigasi dari Desa Jejeg dialirkan menuju rumah warga di RW 01, 02 dan 03. Sedangkan mata air dari Sirampug Brebes dialirkan menuju perdukuhan Krikil, Gardu, dan Winong dari RW 04. Pembelian mata air di Sirampug berbeda dengan pembelian mata air di Desa Jejeg, yakni dengan sistem bayar pada setiap bulannya.

Pembelian beberapa mata air untuk tujuan irigasi ke rumah-rumah warga ini tak serta-merta terjadi begitu saja. Pihak pemerintah desa pernah mengajukan proposal tentang irigasi desa sampai ke tingkat provinsi. Namun saat itu tingkat provinsi hanya dapat membiayai alat-alat atau instalasi, sementara proyek tersebut dapat terlaksana jika sebuah desa telah memiliki mata air yang lokasinya lebih tinggi dari perumahan warga.

Salah satu upaya lain yakni pengajuan proposal ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk pembangunan tangki air. Sebab jika musim kemarau tiba, Desa Cempaka merupakan desa yang sangat rawan kekeringan. Namun hal tersebut terkendala dengan titik tertinggi rumah di Desa Cempaka yang mencapai 26 meter, hal ini dinilai cukup membahayakan untuk pembangunan sebuah tangki air.

Desa Cempaka Tegal Siap Lakukan Konservasi Mata Air

Meski air Tuk Mudal tak lagi digunakan sebagai keperluan sehari-hari, namun peran tujuh mata air di Desa Cempaka sangat dibutuhkan bagi 130 hektare sawah milik warga. Hal ini memacu para perangkat desa untuk menggerakkan masyarakat agar mata air di desa mereka tetap terjaga.

Proses konservasi mata air tersebut dirasa penting sebab tak jarang terdapat sejumlah tuk yang mengalami kekeringan dan akhirnya mati. Kapala Desa Cempaka Abdul Khayyi mengungkapkan kekhawatiran melihat matinya mata air Kubang Apu di Desa Cintamanik, sebuah desa di sebelah timur Desa Cempaka yang telah berubah menjadi sebuah lapangan. Air Kubang Apu tak lagi muncul sebab pepohonan di sekitarnya telah habis dan hal tersebut berdampak pada pengairan sawah para petani.

Proses pemeliharaan mata air Desa Cempaka dimulai sejak tahun 2014 dan digerakkan oleh para pemuda Cempala (Cempaka pecinta alam). Sejak saat itu, penanaman pohon terus dilakukan di setiap tuk agar tetap menjaga vegetasi alami di sekitarnya. Selain penanaman pohon, proses warga dalam menjaga kebersihan tuk menjadi prioritas sebab air tersebut digunakan untuk irigasi ratusan hektare sawah di bawahnya.

Pembuatan talud atau dinding penahan tanah pun digalakkan di area ke tujuh mata air. Hal ini dirasa perlu sebab untuk mencegah terjadinya proses pendangkalan yang terjadi akibat hujan. Sebab aliran air hujan dari permukiman warga sering kali membawa lumpur ke dalam tuk. Selain itu, dengan adanya talud dapat menyaring sampah dari pemukiman warga yang terbawa oleh air hujan.

Pokdarwis Desa Cempaka Tegal: Semangat para pemuda

Berawal dari kepedulian terhadap pentingnya konservasi mata air, pemerintah desa mulai merekrut sejumlah pemuda untuk turut berperan menjaga kelestarian alam. Bermula dari kerja bakti yang dilakukan setiap minggu, kegiatan konservasi dilakukan oleh para pemuda yang tergabung dalam Cempala (Cempaka Pecinta Alam).

Dalam proses perkembangannya, tak disangka Tuk Mudal Bumijawa menjadi salah satu tempat yang nyaman untuk berwisata. Pada tahun 2015, Kelompok sadar wisata atau Pokdarwis mulai terbentuk. Secara simultan, pemuda Desa Cempaka terus melakukan inovasi di area Tuk Mudal agar mata air di desa mereka nyaman untuk dikunjungi oleh wisatawan.

Tuk Mudal Cempaka mulai dikenal masyarakat luas, terutama viralnya mata air kebanggaan warga Desa Cempaka tersebut di media sosial. Hal ini semakin memacu para pemuda Pokdarwis Desa Cempaka dalam mengembangkan jumlah kunjungan di desa mereka. Pokdarwis Desa Cempaka mulai melakukan pengembangan destinasi wisata lainnya.

Pokdarwis Desa Cempaka / sumber: Digimarcom Hidora

Pemuda di wilayah Cempaka Barat berinisiatif mengembangkan wisata di sebuah bukit yang mereka beri nama Bukit Bulak Cempaka atau lebih dikenal dengan nama BBC. Sejumlah nama seperti Nursan dan Roid memotori pembangunan ­spot-spot selfie agar menjadi magnet bagi para pecinta fotografi.

Tak hanya itu, BBC bukan saja menjadi tempat selfie namun pemerintah desa ingin mengembalikan Desa Cempaka sebagai sentra durian seperti dahulu kala. Keinginan tersebut diwujudkan dengan upaya penanaman 7200 pohon durian yang dibagikan kepada masyarakat sekitar BBC. Upaya tersebut diharapkan terwujudnya area khusus yang bakal menjadi pusat wisata kebun durian.

Berbagai upaya yang telah dilakukan Pokdarwis dalam pengembangan pariwisata di Desa Cempaka tiga tahun ini membuahkan hasil yang direspon baik oleh masyarakat. Antara lain yakni Tuk Mudal dengan tujuh mata airnya, Bukit Bulak Cempaka atau BBC, bukit di atas awan Puncak Brongkol, dan Gunung Luhur.

2 thoughts on “Desa Cempaka

  1. Selamat pagi admin. saya tertarik dengan pengembangan wisata Desa Cempaka ini, untuk itu saya ingin beretanya bagaimana proses pengembangan wisata di Desa Cempaka hingga akhirnya potensi yang ada diakomodir oleh Pemerintah Daerah. Apakah dalam perjalanannya sebelum dikembangkan menjadi desa wisata ada dialog diantara masyarakat setempat dengan pemerintah daerah, atau murni swadaya masyarakat untuk mengembangkan potensi wisata desa?
    Mohon tanggapannya, Terima Kasih.

    1. Selamat pagi, terimakasih atas responnya.
      Desa Cempaka memiliki potensi yang sangat besar, baik SDA maupun SDM. Hal tersebut yang memudahkan kami, komunitas HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya) untuk melakukan pendampingan. Selain itu pemerintah Kabupaten Tegal sangat mendukung segala kegiatan yang kami lakukan sebagai konsultan wisata desa di Kabuipaten Tegal. Mungkin kalau ada pertanyaan lain silahkan diajukan.
      Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *